Menggadai Harga Diri Bangsa di SEA Games

Semua marah ketika bendera Indonesia dipasang terbalik di SEA Games (SEAG) 2017 di Malaysia. Semua memaki Malaysia. Menuntut mereka meminta maaf. Tidak sedikit juga yang langsung mengkaitkannya dengan ‘dosa-dosa’ Malaysia terhadap Indonesia di masa lalu. Semuanya panas.

Harga diri bangsa tercabik-cabik, terhina, katanya. Ada beberapa pihak yang bahkan bilang kalau ini adalah tindakan sengaja yang dilakukan Malaysia. Maksud mereka, salah satu negeri jiran itu sengaja menghina Indonesia dengan membalik bendera merah putih.

Malaysia cepat menanggapi. Lewat Menteri Olahraga, Pemerintah Malaysia dan Panitia SEAG meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Malaysia memang perlu dan harus meminta maaf atas ketidakprofesionalan ini. Lambang negara harus dihormati—milik sendiri maupun milik negara lain. Karena memang hal memalukan seperti ini tidak boleh terjadi di manapun; apalagi di ajang multinasional seperti SEAG.

Walau sudah meminta maaf, tetap saja masih banyak orang Indonesia yang marah-marah ke Malaysia. Mulai dari tuduhan tuan rumah curang, hingga beberapa kali bendera tetap kebalik (terutama di siaran stasiun TV).

Pokoknya semua benci Malaysia. Sedemikian lebay-nya. Untuk membela harga diri bangsa.

Ada cerita soal SEAG.

Dulu ada tuan rumah SEA Games yang menghapus 60 nomor pertandingan. Negara tersebut kemudian menambah cabor yang tidak populer buat negara lain. Untuk mendulang emas. Sekian banyak nomor dihapuskan termasuk beberapa di antaranya dari cabang olahraga (cabor) biliar, menembak, aerobik, sampai tenis meja.

Empat negara peserta menyayangkan keputusan tersebut. Tapi 60 nomor itu tetap dihapus. Alasannya, tuan rumah merasa kalau nomor-nomor tersebut kurang populer dan cuma diikuti kurang dari 4 negara. Alasan yang terdengar masuk akal. Yang membuat banyak orang heran, tuan rumah malah menambah pertandingan di cabor yang kurang populer untuk negara lain, tapi populer di negara sendiri.

Bridge, paragliding, wall climbing, water skiing, vovinam, sampai roller skating ditambahkan. Roller skating malah sampai dijatah 12 nomor. Wall climbing, water skiing, kenpo, roller skating tidak dipertandingkan di SEAG sebelumnya. Sementara ada juga paragliding dan bridge yang bukan olahraga tradisional Olimpiade maupun SEAG, tapi dipertandingkan ketika itu.

12 medali di cabor roller skating disapu bersih tuan rumah. Di cabang lain, tuan rumah menang besar. Tidak heran, tuan rumah dengan mudah jadi juara umum.

SEAG tersebut juga diwarnai beberapa keputusan yang memihak tuan rumah. Terjadi di beberapa cabor. Sampai dikritik oleh pemerintah negara tetangga.

Oiya.. Itu semua terjadi di SEAG 2011. Tuan rumahnya: INDONESIA.

Memang, menghapuskan cabor dan menggantinya dengan cabor lain adalah hak tuan rumah SEAG. Legal. Tidak ada aturan yang dilanggar. Semuanya sesuai aturan. Mereka berhak untuk mengganti, ataupun tidak mempertandingkan. Aturannya memang seperti itu.

Banyak yang bilang itu bukan masalah. Karena memang itu aturannya. Tapi, untuk kalian yang berpendapat seperti itu, apa iya aturan tersebut sudah memenuhi unsur sportivitas yang selalu dijunjung tinggi di tiap event olahraga?

Ini adalah loophole dari SEAG. Bukan hanya Indonesia, semua negara tuan rumah melakukan ini. SEAG 2009 di Laos menghapuskan pertandingan layar dan surfing karena tuan rumah tidak punya wilayah laut. Di SEAG 2013, Myanmar memasukkan cabor tradisional negaranya chinlone dan sittuyin yang tidak populer di negara ASEAN lain. Tidak heran kalau negara tuan rumah akan menang banyak medali, bahkan sampai juara umum. Karena peraturannya dibuat seperti itu.

Entah masih tidak terima dengan insiden bendera terbalik atau tidak, banyak juga orang yang memaki dan menuduh Malaysia curang di SEAG 2017 ini lewat keputusan-keputusan official pertandingan. Padahal, official pertandingan SEAG memang memiliki track record memihak tuan rumah.

Saya tidak begitu paham bagaimana penentuan official pertandingan di SEAG dipilih. Tapi yang pasti, peraturan yang ada sekarang, selalu menguntungkan tuan rumah. Coba saja baca berita kontroversi lima gelaran SEAG ke belakang, berita kebanyakan didominasi oleh tidak adilnya official pertandingan—dan juga penghapusan cabang olahraga.

Negara ASEAN perlu mendiskusikan kembali aturan yang lebih baik untuk SEAG. Agar nantinya, gengsi yang naik bukan hanya gengsi negara tuan rumah saja. Tapi gengsi level olahraga ASEAN secara ke seluruhan di mata dunia.

Sementara panitia penyelenggara harus lebih profesional. Jangan sampai kasus memalukan bendera terbalik terjadi lagi. Atau kasus closing ceremony di SEAG 2015 Singapura terulang. Ajang olahraga ASEAN ini harus lebih baik.

Tanpa mengurasi rasa hormat dan bangga saya kepada seluruh atlet yang bertanding di SEAG, perlu diakui bahwa SEAG ini adalah gelaran yang sering kacau. Ajang olahraga ini seakan hanya ajang gengsi-gengsian tuan rumah, digilir 2 tahunan. Semua akan ada waktunya untuk jadi juara umum; atau paling tidak posisi-nya lebih baik di klasemen akhir.

Jadi, buat apa emosi dan memupuk benci ke negara tetangga gara-gara SEAG? Untuk membela harga diri bangsa yang hilang entah ke mana setiap jadi tuan rumah SEA Games?

Nationalism is overrated.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s