Kenapa Harus Menolak Mahasiswa Bertato dan LGBT, UPI?

Baru-baru ini, beredar screencapture yang berisikan surat pernyataan yang harus diisi oleh calon mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jalur SBMPTN. Di dalamnya, calon mahasiswa harus:

  1. Tidak pernah memakai dan atau berhubungan/tersangkut dengan kegiatan penjualan, pengedaran, dan pengguna NARKOBA;
  2. Tidak BERTATO;
  3. Tidak terlibat dalam LGBT secara perseorangan dan atau komunitas;
  4. Tidak merokok di lingkungan kampus UPI;
  5. Sanggup menaati segala peraturan dan tata tertib yang ditetapkan oleh UPI.

Surat pernyataan ini harus ditandatangani di atas materai Rp6.000,-. Mudah saja bagi mereka yang menggunakan/mengedarkan narkoba, merokok, bertato, dan LGBT untuk tetap bisa masuk UPI.  Tanda tangan, dan kuliah seperti biasa. Tanpa melakukan secara terbuka larangan-larangan itu. Simpel.

Tapi, aturan ini seharusnya tidak perlu ada, sehingga hal tersebut tidak kejadian; dan mahasiswa bisa belajar dengan tenang tanpa membohongi diri sendiri.

DCO1PdjUQAARpV7.jpg_large

Dari surat pernyataan di atas, saya mempermasalahkan dua poin. Yang pertama adalah soal larangan bertato, yang kedua adalah soal larangan LGBT perseorangan.

Mereka yang memiliki tato dan LGBT seakan tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan di UPI. Mereka diperlakukan layaknya seorang kriminal, padahal mereka tidak melakukan tindak pidana kriminal.

Tidak ada yang salah dari memiliki tato. Tato, dalam perkembangannya sudah banyak dibuat/digunakan oleh masyarakat dari status sosial yang beragam. Tidak hanya seorang kriminal/penjahat. Moral seseorang yang menggunakan tato pun tidak lantas rusak karena memilikinya. Jadi, melarang seseorang yang memiliki tato untuk berkuliah adalah sebuah hal yang salah kaprah.

Untuk soal LGBT, ada banyak bahasannya. Sebelum membahas lebih lanjut, saya mau menuliskan beberapa hal. 1) UPI adalah universitas yang ada di bawah Kemenristekdikti; 2) UPI adalah lembaga pendidikan, bukan agama; 3) LGBT adalah Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender/Transexual. Biasanya istilah lengkap adalah LGBTQIA; ditambah dengan Queer, Intersex, dan Asexual.

Sama seperti tato, menjadi seorang LGBT di Indonesia (kecuali Aceh) bukanlah sebuah tindakan kriminal; selama tidak melanggar hukum lain yang lebih spesifik seperti hukum perlindungan anak, kesusilaan, pornografi, pelacuran, dan juga pemerkosaan. Bisa dibilang, menjadi seorang LGBT di Indonesia sama derajatnya dengan menjadi seorang heteroseksual di mata hukum Indonesia.

Perbuatan homoseksual (kegiatan seksual antar sesama jenis) juga bukan sebuah tindakan melanggar hukum selama dilakukan oleh orang dewasa secara konsensual, secara pribadi di ruangan tertutup, tidak direkam/disebarkan, dan bukan pelacuran. Lagi-lagi, sama seperti heteroseksual.

Jika ternyata hak-hak LGBT dan heteroseksual sama di mata hukum, lalu kenapa ada universitas yang melarang (calon) mahasiswanya untuk mendapat pendidikan yang layak di universitas negeri, yang bukan lembaga keagamaan?

Dilihat dari ideologi Pancasila yang dianut oleh Indonesia pun, LGBT tidak bisa dilarang untuk mendapatkan pendidikan di universitas. Pancasila adalah ideologi timur, yang tidak sesuai dengan ideologi barat seperti LGBT; itu yang diklaim para penentang LGBT masuk kampus.

Padahal, LGBT sudah lekat dalam beberapa adat dan budaya di Indonesia sejak ratusan tahun lalu, bahkan hingga sekarang. Yang banyak dijadikan referensi di antaranya adalah Bissu, Calabai, dan Calalai di Bugis, dan juga Warok dan Gemblak di Ponorogo. Dari dua contoh budaya tersebut saja, klaim bahwa LGBT adalah ideologi Barat itu sudah salah.

Penolakan LGBT masuk kampus ini juga banyak didukung dengan alasan bahwa LGBT adalah penyakit dan bisa menular. Padahal, studi menyebut bahwa LGBT bukan penyakit atau gangguan jiwa.

Jika pun ada yang kekeuh menyebut bahwa LGBT adalah penyakit dan menular, menurut saya mereka salah. Karena bukti tidak menunjukkan hal tersebut. Di Bugis, para bangsawan menitipkan anak mereka pada calalai dan calabai; lelaki kemayu dan wanita maskulin. Dan tradisi ribuan tahun itu tetap bisa membuat peradaban maju tanpa rusak moral sosialnya.


Dilihat dari segi agama, bertato dan menjadi seorang LGBT adalah perbuatan yang salah. Soal dosa, soal azab, soal neraka, mereka yang bertato dan LGBT saya yakin mengerti. Tapi sekali lagi, 1) UPI adalah universitas yang ada di bawah Kemenristekdikti; 2) UPI adalah lembaga pendidikan, bukan agama. Jadi, soal hukum agama, hanya relevan diaplikasikan pada diri masing-masing individu, bukan lembaga.

Kemenristekdikti sendiri tidak melarang LGBT perseorangan masuk kampus, apalagi melarang yang bertato. Karena mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak seluruh warga Indonesia. UPI juga bukan sebuah lembaga keagamaan, jadi segala peraturannya, seharusnya, mengacu pada aturan hukum yang berlaku di Indonesia. UPI itu universitas negeri. Bukan universitas privat.

Jika pun tetep ngotot bahwa LGBT dan yang bertato adalah penyakit sehingga para pelakuknya harus dijauhkan—kalau tidak mau dibilang ditolak—dari kampus, maka UPI bukanlah kampus yang baik, kompeten, dan unggul. Karena kampus yang penuh akan calon pendidik akan mampu menyembuhkan LGBT. Rumah sakit yang baik tidak akan menolak—mengusir—pasiennya yang sakit.

Tapi, sekali lagi, LGBT itu bukan penyakit, dan tidak menular. Soal moral, sebaiknya  menjadi urusan masing-masing. Kalian bisa kok tidak setuju dengan ide LGBT atau (orang) bertato tanpa mematikan dan menutup hak orang lain untuk mendapatkan pendidikan.

Nyatanya, adil sejak dalam pikiran itu sulit. Bahkan untuk kampus yang penuh dengan pendidik.

So much for leading and outstanding university, huh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s