Muslim Privilege: Blind Spot Muslim Indonesia

Qasim Rashid, seorang educator, penulis, pengacara muslim di Amerika Serikat (AS) mencuitkan beberapa buah pemikirannya mengenai white privilege di akun Twitter pribadinya @MuslimIQ. Ia menjelaskan bahwa ada masyarakat AS yang menyesalkan munculnya sentimen xenophobia dan kekerasan atas dasar agama/rasial yang terjadi. Mereka yang kecewa menyebut, AS—yang di mana banyak terjadi xenophobia dan kekerasan agama/rasial—bukanlah AS tempat mereka tumbuh. Hal tersebut jauh dari nilai-nilai yang dianut oleh AS.

Namun, Qasim memiliki pendapat lain. AS yang penuh dengan sentimen xenophobia dan kekerasan agama/rasial adalah AS tempat ia dan minoritas lain tumbuh. Hanya saja, masyarakat mayoritas telah terbutakan oleh apa yang disebut “white privilege“; hak istimewa kaum kulit putih.

Mereka seakan baru mendapatkan atau mengetahui berita-berita soal kekerasan, kebencian, ketidakadilan atas dasar agama/ras. Mereka kemudian ramai-ramai menentang bahwa AS tidaklah menganut nilai-nilai tersebut. Mereka menyebut fenomena ini adalah hal baru yang harus segera ditangani, karena AS adalah negeri tempat kesempatan dan mimpi bisa diwujudkan; untuk semua golongan.

Tapi nyatanya tidak. Kekerasan, kebencian, dan diskriminasi terhadap minoritas sering terjadi di AS sana. Bahkan sejak AS baru berdiri, dan masih terus terjadi hingga sekarang. Hanya saja, hal ini semakin meningkat ketika Donald Trump, yang vokal terhadap para imigran dan minoritas di AS, terpilih sebagai presiden AS.

Mendengar penjelasan Qasim, saya mau tidak mau melihat pada Indonesia. Karena, kekerasan, kebencian, dan diskriminasi terhadap minoritas juga meningkat di Indonesia belakangan ini. Apa mungkin ada “white privilege” juga di Indonesia?

Saya pikir ada. Tapi bukan “white” karena masyarakat Indonesia sendiri bukan kaum kaukasia. Ada mayoritas lain yang rasanya sedang terbutakan oleh hak istimewanya. Ya, muslim privilege.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di Indonesia, mayoritas penduduk di Indonesia tentu memiliki muslim privilege ini.

Mayoritas masyarakat Indonesia yang kaget melihat banyaknya kekerasan, kebencian, dan diskriminasi agama/rasial yang belakangan banyak terjadi, tidaklah melihat fenomena baru. Melainkan melihat fenomena yang sebenarnya banyak terjadi, namun baru belakangan ini sering muncul—diperuncing oleh kelakuan para elit politik untuk kepentingan pribadinya.

Jadi, ketika melihat banyak sentimen negatif terhadap masyarakat keturunan Cina, ujaran kebencian terhadap masyarakat beragama selain Islam, ajakan membunuh yang dinyanyikan oleh anak kecil, diskriminasi penganut agama lain tidak boleh jadi pemimpin, hingga kebiadaban sejarah terhadap minoritas yang disangkal media arus utama, masyarakat bukanlah melihat hal yang baru. Hal itu terjadi—dalam skala yang lebih kecil atau besar—di kehidupan sehari-hari, di banyak lini kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga hingga pekerjaan. Dari rumah, hingga sekolah.

Terbiasa untuk memiliki prasangka bahwa yang berbeda agama tidak lebih baik dari yang seagama, bahwa mereka minoritas tidak bisa jadi pemimpin walau mumpuni, anak-anak yang benci minoritas adalah hal yang lucu dan harmless, doa di berbagai kesempatan menggunakan doa masyarakat mayoritas sementara agama yang lain diminta menyesuaikan, segala diskriminasi terhadap minoritas diragukan kebenarannya betapa pun banyak buktinya.

Walau memiliki privilege tersebut tidaklah otomatis membuat kita menjadi rasis, tapi jelas privilege itu membuat kita buta.

Ketika ada mayoritas yang menyebut, “Indonesia ini toleran kok. Yang tidak toleran itu bukan Indonesia!” atau, “Di daerah aman aja kok, banyak tindakan toleran gak diberitakan, giliran ada sedikit yang intoleran dipermasalahkan!” pesan sebenarnya yang kalian sampaikan adalah, “Sehari-hari kalian minoritas ini sudah mengalami diskriminasi kok, terus kenapa?”

Hal ini membuat minoritas bertanya-tanya apakah kalian ini sedang melakukan diskriminasi karena hal itu benar, atau karena hal itu sesuai dengan apa yang selama ini terjadi?

Lalu apa yang harus dilakukan agar kita tidak terus dibutakan oleh privilege ini? Mendengar.

It’s called blind spot for a reason. Mungkin kita sebagai mayoritas memang sudah tidak bisa melihat fenomena ini. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah mendengar.

Mendengar diskriminasi yang terjadi, mendengar kekerasan yang kian sering muncul, mendengar kebencian yang makin banyak terujar. Apa yang kita dengarkan, sampaikan pada teman mayoritas lain. Gunakan hak istimewa yang kita miliki ini untuk memanjangkan pesan para minoritas yang didiskriminasi. Sehingga semua orang mendapatkan pesan terbaik bahwa diskriminasi bisa dihilangkan.

Sesungguhnya, menyangkal dengan pesan bahwa “Indonesia ini toleran” di tengah marak dan meningkatnya diskriminasi terhadap minoritas adalah bentuk nyata kebutaan karena privilege ini. Again, it’s called blind spot for a reason.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s