@boediw—Komunitas Cinta Damai Bandung

Aksi 1000 Lilin untuk Warga Bandung dan Bobotoh Persib

Saya adalah seseorang yang mendukung ide perbaikan di negeri ini. Saya yakin semua orang juga begitu. Hanya, cara mendukungnya tentu berbeda. Saya adalah seorang yang mendukung ide-ide pembangunan nyata; tidak tersesat pada hal-hal abstrak yang sulit diukur.

Maka dari itu, saya tidak setuju ketika negara tersesat pada persoalan Ahok menista agama atau tidak. Karena, ukuran menista ini tidak jelas. Ahok sudah menyatakan bahwa ia tidak berniat menista. Tapi ada sebagian orang lain yang bilang Ahok telah menistakan agama. Tidak jelas ukuran dari menista keduanya.

Kita tidak akan pernah tahu apakah Ahok benar ingin menista atau tidak. Tidak akan pernah tahu apakah mereka yang bilang Ahok menista, memang benar merasa agamanya sedang dinista, atau hanya menggunakan isu ini untuk kepentingan politiknya.

Yang pasti keputusan hakim sudah diketuk. Ahok dinyatakan bersalah dan dipenjara.

Dan saya, masih tidak setuju apabila negara tersesat pada hal-hal abstrak yang sulit diukur.

Maka dari itu, saya mendukung Ahok yang menurut saya menjadi korban dari matinya keadilan bobroknya sistem hukum di Indonesia ini. Saya mendukung aksi damai menyalakan lilin di berbagai daerah sebagai simbol dukungan terhadap Ahok dan juga simbol keprihatinan karena hukum masih tunduk pada yang berisik, bukan keadilan.

Saya sendiri hanya ikut mendukung aksi damai 1000 lilin lewat sosial media. Mendukung mereka yang menyalakannya di berbagai daerah, tanpa berharap di daerah saya tinggal akan diadakan juga kegiatan serupa.

Pemikiran saya bukan tanpa alasan, Bandung merupakan kota—yang walaupun sangat kreatif—yang sangat konservatif. Jadi di Bandung sebenarnya lebih banyak mereka yang senang akan vonis Ahok daripada yang tidak.

Ini adalah hasil pengamatan saya dari beberapa teman di sosial media, tetangga, dan juga kerabat di tempat sehari-hari beraktivitas. Bisa valid, bisa juga tidak.

Tapi ternyata, Sabtu (13/5) malam, aksi damai 1000 lilin di Bandung digelar. Tepatnya di depan Gedung Sate Bandung. Menurut @_rannah yang mengikuti aksi, kegiatan berjalan lancar dan damai.

Detik.com membuat berita tentang aksi damai ini. Di Twitter, headline detik tentang kegiatan ini mendapat respon yang negatif. Banyak netizen (yang saya asumsikan sebagai warga Bandung) mencela aksi tersebut.

Banyak argumen yang digunakan untuk mendiskreditkan acara tersebut. Bahkan sampai ada tagar #BandungTeuPaduli segala. Wajar, mengingat memang warga Bandung ini sangat konservatif seperti yang saya bilang tadi.

Tapi ada argumen yang paling banyak sering muncul—dan membuat saya pengen ketawa saking tidak masuk akalnya—yaitu kira-kira seperti ini: 1) “Orang Bandung pasti nonton Persib, dan gak peduli soal Ahok dan lilin!”, dan 2) “Orang Bandung yang tidak nonton Persib berarti bukan orang Bandung, bukan orang Sunda!”

Sebenarnya saya sedih—walau tertawa garing juga—masih banyak orang Bandung yang berpikiran seperti itu.

Memang, saat kegiatan diselenggarakan, Persib sedang bertanding melawan Semen Padang, dan disiarkan di salah satu stasiun TV. Jadi, para bobotoh Persib tentunya ya banyak yang nonton Persib.

Tapi, coba perhatikan dua argumen yang sering muncul itu. Kita bahas satu persatu.

1. “Orang Bandung pasti nonton Persib, gak peduli soal Ahok dan Lilin!”

Benarkah? Total penduduk metropolitan Bandung itu berjumlah lebih dari 6 juta orang. Apa yakin semua orang tersebut pasti nonton Persib? Apa yakin semua orang tersebut tidak peduli akan bobroknya hukum di Indonesia? Apa yakin tidak ada yang suka dengan sepak terjang Ahok dan yakin Ahok tidak menistakan Agama?

Saya rasa tidak ada yang bisa menjamin semua penduduk Bandung pasti nonton Persib, pasti pendukung Persib, tidak suka ahok, tidak suka aksi damai 1000 lilin di Bandung.

Ada orang-orang seperti saya. Ada orang-orang seperti teman-teman yang sepemikiran dengan saya. Ada orang orang yang sekolah dan beraktivitas di tempat yang heterogen dan menghargai perbedaan.

Bagaimana mungkin banyak orang Bandung di sosial media yang mengklaim semua orang Bandung dukung Persib?

1000-an orang yang kemarin melakukan aksi damai itu adalah kurang dari 1 persen total penduduk Bandung. Kalau memang sebagian besar penduduk Bandung menonton Persib ketika itu, jangan diskreditkan mereka yang memiliki pandangan berbeda.

Jikapun sebagian besar orang di Bandung senang atas hukum di Indonesia yang telah “adil” memvonis Ahok, jangan nafikan mereka yang melakukan aksi damai 1000 lilin.

Poinnya adalah, tidak semua orang Bandung dukung Persib, tidak semua orang Bandung benci Ahok, tidak semua orang #BandungTeuPaduli atas bobroknya hukum di Indonesia.

2. “Orang Bandung yang tidak nonton Persib berarti bukan orang Bandung, bukan orang Sunda!”

Dear kalian yang punya opini seperti ini, coba jagalah hati, jangan kau kotori. Itu kata Aa Gym, ulama Bandung kenamaan yang banyak jadi panutan warga Bandung*.

Begitu besarnya fenomena Persib sehingga dicintai banyak warga Bandung—dan Jawa Barat— sebaiknya jangan dikerdilkan menjadi persoalan rasial.

Banyak orang Medan tinggal di Bandung yang mendukung Persib. Ada orang Jakarta yang cinta Persib karena tim kotanya tidak terlalu menjanjikan. Ada orang Jawa yang ikut senang ketika Persib main karena Persib mainnya bagus. Belum lagi warga daerah lain yang juga senang Persib.

Memang Persib dari Bandung, Jawa Barat. Tapi jangan dijadikan eksklusif menjadi milik golongan tertentu.

Apa jadinya jika penduduk kota Manchester bilang bahwa “kalian yang tidak mendukung MU adalah bukan orang Manchester”? Padahal kalian orang Bandung jelas-jelas mendukung Manchester dan cinta mati dengan klub kesayangan kalian itu?

Bagaimana perasaan orang Medan, orang Jawa, orang luar Sunda yang mencintai dan mendukung Persib sepenuh hati? Kalian akan mempertanyakan kecintaan mereka pada Persib? Kalian tentu tidak akan mempertanyakannya. Maka dari itu, persoalan dukung mendukung Persib jangan dikerdilkan menjadi isu rasial.

Hal lain yang perlu dicatat adalah: ada orang Sunda, ada orang Bandung yang gak suka nonton bola. By that logic mereka enggak suka Persib. Bahkan ada yang suka/enggak suka bola dan benci Persib setiap kali main.

Kenapa? Karena tidak semua selera orang sama, walaupun kalian tinggal di tempat yang sama berpuluh-puluh tahun. Selera musik orang tua, kakak, adik kalian yang tinggal satu rumah saja bisa beda. Selera makan saja bisa beda. Apalagi soal klub bola.

Belum lagi ditambah fakta bahwa ada orang yang gak suka saat Persib main di kandang. Bagaimana tidak, setiap Persib main di kandang, sebelum dan sesudah pertandingan jalanan dibuat macet karena banyak bobotoh tidak tertib. Mereka yang memiliki kendaraan plat B (Jakarta) khawatir akan keselamatan.

Banyak bobotoh yang rusuh di jalan. Seenaknya sendiri ugal-ugalan. Menang atau kalah. Bahkan pernah ada kejadian, saat Persib merayakan juara, sebuah mobil plat B dirusak.

Tidak semua orang suka dengan kelakuan vandal. Terima saja kenyataan itu dulu. Let that sink in.

***

Saya yakin bobotoh Persib tidak semuanya vandal. Banyak juga mereka yang tertib. Banyak juga bobotoh yang merasa bahwa slogan “Bandung aing kumaha aing!” ketika Persib menang/kalah itu salah. Karena jika tidak begitu, bobotoh tidak mungkin mendapat gelar supporter terbaik.

Saya yakin warga Bandung itu bisa menerima perbedaan. Karena jika mereka tidak bisa, Bandung tidak akan mendapatkan label Kota Kreatif. Karena kreativitas adalah buah dari terbukanya pikiran.

Saya juga yakin warga Bandung adalah warga yang toleran. Karena jika tidak toleran, maka Bandung tidak akan mendapatkan predikat sebagai Kota Hak Asasi Manusia.

Hanya saja, semua predikat membanggakan tersebut masih harus dibuktikan oleh warga Bandung. Karena dari kasus tersebut di atas saja, ternyata masih banyak warga yang berpikiran sempit, tertutup, denial, juga intoleran.

Jika kalian marah terhadap saya karena menulis tulisan ini, buktikan bahwa saya salah dengan menjadi warga Bandung yang toleran, berpikiran luas dan terbuka, juga tidak denial.

George Carlin pernah bilang, human behavior—kebiasaan manusia—itu unik. Manusia itu selain membunuh dirinya sendiri, ia juga membunuh orang lain. Bahkan manusia adalah satu-satunya spesies yang membunuh anggota manusia lain untuk kepentingannya sendiri.

Manusia itu pembunuh—secara literal maupun tidak. Lalu siapa yang dibunuh manusia? Mereka adalah manusia lain yang menyerukan untuk hidup secara damai dan saling mencintai. Carlin menyebutkan Yesus, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, John Kennedy, Martin Luther King, Malcolm X, John Lennon,  adalah tokoh-tokoh yang menyerukan perdamaian dan mati dibunuh. Sepertinya, manusia tidak pernah siap untuk hidup damai.

Saya selalu menolak pemikiran Carlin ini. Saya yakin manusia bisa hidup besama damai dalam harmoni.

Tapi, melihat begitu banyaknya orang yang terganggu dengan aksi damai 1000 lilin, tampaknya Carlin benar.  Begitu banyak manusia yang tidak siap untuk hidup damai, dan lebih memilih untuk membunuh ide hidup dalam damai. Lebih memilih untuk hidup penuh ancaman dalam pekikan ganyang, penggal, dan bunuh.

A sad sad thing really.
Terakhir, aksi menyalakan 100 lilin di Bandung itu tidak merugikan siapapun—it’s harmless really. Aksinya damai. Hanya menyalakan lilin, menyanyikan lagu kebangsaan, dan berdoa. Sesimpel itu.

Tidak ada pesan menyakiti yang diutarakan. Tidak ada ujaran benci yang diteriakkan. Jika kalian lebih terganggu dengan aksi seperti ini daripada aksi lain yang meneriakkan ganyang, bunuh, dan penggal minoritas, maka yang salah bukan masyarakat. Yang salah diri kalian sendiri.

Cheers.

-END-

*) but not me

Note: Drone photo aksi damai 1000 lilin by @boediw—Komunitas Cinta Damai Bandung

Advertisements

2 thoughts on “Aksi 1000 Lilin untuk Warga Bandung dan Bobotoh Persib”

  1. Puji Tuhan, ada yang mau tulis analisis dan argumen dengan lebih mendalam terkait aksi kemarin malam dibanding sekadar ngomel-ngomel 144 karakter di Twitter.
    Saya juga bukan orang yang ada di lokasi kejadian, kurang adil rasanya ikut berkomentar. Tapi posisi kita jadi setara karena menjadi sama-sama orang yang alfa di lapangan dan sekadar hadir di media sosial bukan?
    Untuk beberapa hal, saya setuju dengan tulisan ini semisal pernyataan bahwa Bandung cukup konservatif. Tapi hal yang menyatakan kalau, ‘di Bandung sebenarnya lebih banyak mereka yang senang akan vonis Ahok daripada yang tidak’, saya bersebrangan dengan Mas Adit.
    Ga apa-apa toh? Data valid perihal ini memang gak ada. Barangkali pengamatan dan orang-orang yang diamati memang berbeda.
    Ah, lebih baik kembali ke hal mengenai Aksi 1000 Lilin kontra Persib.
    Tentu aksi damai a la Aksi 1000 Lilin adalah hal yang halal untuk dilakukan, pun menyaksikan Persib Bandung. Ketika keduanya berjalan beriringan, rasa-rasanya tidak masalah dan hal itu memang terjadi (karena Detik Bandung sendiri memuat judul “Aksi Lilin untuk Indonesia di Bandung Berlangsung Damai” https://t.co/Hvayr5rK9Q)
    Yang lucu sebenarnya, ketika di lapangan situasi berlangsung damai, di linimasa Aksi 1000 Lilin itu malah menimbulkan ‘api’. Banyak yang mendiskreditkan acara tersebut, baik yang masuk akal atau jauh dari sana.
    Saya sepakat ketika “Terakhir, aksi menyalakan 100 lilin di Bandung itu tidak merugikan siapapun—it’s harmless really. Aksinya damai. Hanya menyalakan lilin, menyanyikan lagu kebangsaan, dan berdoa. Sesimpel itu.” tertulis di teks ini. Memang aksi tersebut adalah bentuk solidaritas yang tidak merugikan.
    Selain yang saya contohkan di atas, banyak juga hal lain yang saya sepakati dari tulisan mas Adit ini.
    Yang saya sayangkan, fakta bahwa ada peserta aksi (atau setidaknya mereka yang pro-aksi damai) yang menggunakan media sosial untuk mendiskreditkan acara nonton bareng Persib, ditiadakan dari tulisan mas Adit ini.
    Di media sosial, saya lihat ada dua cuitan sebagai contoh (yang sialnya sudah dihilangkan, atau akunnya dihapus).
    “Ketika semua lagi berdoa..:) parah ya.. Ada acara dadakan nonton Persib dgn loudspeaker yg sangat keras”
    Atau
    “tanpa pengeras suara. dikepung loudspeaker yg sengaja dipasang di sekitar lokasi & siarkan live Persib. Bandung – Jawa Barat! #Justice4Ahok”
    Agak lucu juga ketika peserta aksi damai, yang sebelumnya saya pikir toleran, tahu cara menggunakan bahasa yang mengenakan serta tahu untuk menggali informasi terlebih dahulu, malah mendiskreditkan acara yang dari jauh-jauh hari sudah diumumkan melalui berbagai poster (Seperti yang diketahui, saat itu di Gedung Sate sedang ada festival kopi dan nobar Persib menjadi salah satu agendanya, dan ini sudah diumumkan sejak jauh-jauh hari). Tentu itu cuma segelintir dan enggak semua peserta aksi seperti itu. Mereka yang doyan ngomel-ngomel di media sosial aja yang menurut saya sebagai penyebab api.
    (untuk twit yang kedua sebenarnya menurut saya enggak terlalu mendiskreditkan kegiatan nobar sih. Cuma semacam bentuk reportase aja. Namun entah kenapa saya mencicipi sedikit aroma ‘playing victim’ di sana)
    Saya rasa dengan atau tanpa nonton bareng Persib di tempat yang nyaris sama. Kegiatan dapat tetap berlangsung, kok. Dan itu memang terjadi: nobar lancar, aksi damai juga. Melihat jauh ke pulau lain, bahkan (konon, kata beberapa akun pro-aksi damai) aksi di Padang tetap berlangsung walau hanya diikuti satu orang. Dua fakta di atas memang enggak berkaitan-berkaitan banget tapi tetap bisa menimbulkan satu simpulan: ‘apapun kondisinya, gaduh atau sunyi, ramai atau sepi, aksi damai bisa tetap jalan. Semua orang bisa tetap bersuara.’
    Kalau dari pengamatan saya yang kebenarannya (sepertinya) enggak valid-valid banget juga, setelah komentar-komentar bernada serupa, hukum aksi-reaksi berjalan. Apalagi harus diakui kalau suporter bola masih banyak yang bersumbu pendek, apapun klub yang mereka imani. Suporter sepak bola yang merasa didiskreditkan (lebih-lebih komentar di media sosial itu membawa nama Persib), melakukan serangan balik, entah dengan komentar yang masuk akal, tidak masuk akal, moderat, patut ditertawakan atau layak disimak.
    Tentu supporter sepak bola bisa begitu mudah diledakan. Beberapa hal juga bisa membuat kata ‘bigot’ dengan mudah dilekatkan pada mereka. Namun jangan lupakan kalau suporter sepak bola bisa menjadi contoh nyata dari apa yang disebut toleransi atau perdamaian. Aksi menjamu suporter tamu bisa terlihat lebih manis dari lirik lagu “Imagine”-nya John Lennon .
    Menurut saya sih suporter bola termasuk Bobotoh memang sanggup menjadi tokoh yang someah, santun dan toleran, sekaligus fanatik, ekstremis hingga barbar di waktu yang bersamaan. Mereka bisa jadi bodor, manis dan menyenangkan layaknya patung Maung Cisewu, bisa juga garang dan perkasa layaknya patung Maung di markas Kodam yang lain.
    Ah, kok saya jadi kemana-mana.
    Intinya sama seperti banyak orang, saya juga lebih senang ketika semua bisa hidup damai dan tenang, baik di dunia nyata atau pun media sosial. Sayangnya tadi malam cuma setengahnya yang terjadi, cuma karena sulit untuk bisa menghargai kegiatan dan urusan masing-masing. Menurut saya sih komentar-komentar semacam dua di atas jadi backfire sehingga tagar #BandungTeuPaduli jeung sajabana muncul.
    Enggak, saya enggak sepenuhnya menyalahkan dua komentar yang mendiskreditkan kegiatan nonton bareng Persib. Namun, bakal lebih bijak kalau mereka bisa menghargai kegiatan di luar kegiatannya sendiri, paham konteks mengenai hubungan masyarakat Jawa Barat dan Persib Bandung, juga paham bahwa kegiatan nonton bareng sudah direncanakan dari jauh-jauh hari dan lain-lain. Pembesar-pembesar suporter juga bakal lebih menyenangkan kalau bisa lebih santai menghadapi komentar minim riset a la dua warganet yang saya tulis di atas.
    Sekali lagi saya yakin kalau enggak semua peserta aksi damai mengamini perilaku dua warganet di atas. Enggak semua mendiskreditkan kegiatan nobar dan tetap baik-baik saja walau prosesi menyalakan 1000 lilin harus bersebelahan dengan aktivitas Bobotoh.
    Gara-gara salah paham dikit kan, jadi aja kata-kata seperti ‘ekstremis’, ‘intoleran’, ‘bigot’ dan lain-lain beterbangan di media sosial tadi malam. Persib diantonimkan dengan Ahok dan Aksi 1000 Lilin. Bobotoh disinonimkan dengan ekstremis, bigot dan intoleran. Padahal urusan Bobotoh dari dulu ya seputar Persib, bukan mendukung atau meng-anti-kan tokoh politik juga golongan pendukungnya, termasuk aktivitasnya. Namun komentar tanpa pikir panjang dan minim riset a la dua contoh di atas itu yang bikin salah paham dan semuanya seolah terkait tadi malam.
    Jadi kalau menurut saya sih lagi-lagi, tagar #BandungTeuPaduli bukan perihal masyarakat yang ignorant terhadap isu penistaan agama atau konservatisme terhadap agama, nilai dan lainnya. Ini lebih ke perihal penistaan-kegiatan-Bobotoh yang seharusnya sah-sah saja untuk dilakukan.
    Menyuarakan gagasan itu penting. Peduli itu penting. Toleransi juga penting. Tapi khusus untuk saya dan banyak orang lainnya, Persib juga penting.
    Trimz
    -komentar dari saya yang seorang Bobotoh, kebetulan enggak ada di lokasi, dan semoga bukan bigot juga ekstremis.

    Like

    1. Kita banyak sepakat di banyak poin. Saya ingin tekankan lagi, bahwa persoalan nonton Persib dan aksi 1000 lilin memanglah dua hal yang berbeda. Jauh berbeda dan sebenarnya tidak ada kaitannya.

      Oranh Bandung yang mendukung Persib pasti bisa menerima jika ada orang lain yang memilih aksi mendukung Ahok dibanding nonton bola.

      Dan sebaliknya, orang yang melakukan aksi damai, pasti bisa menerima ada orang Bandung yang ingin nonton Persib.

      Maka dari itu, saya sedih kenapa argumen “Orang Bandung pasti nonton Persib!”, “Kalau gak dukung Persib bukan orang Bandung!”, dan munculnya hashtag #BandungTeuPaduli bisa muncul. Seakan 1000-an orang Bandung ini tidak boleh menyalurkan aspirasinya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s