Perjalanan Mengubah Hidup: Suka dan Duka di Mbua (Bagian 2)

Macet. Perjalanan Jakarta-Bandung di hari Jumat memang hampir pasti selalu macet. Banyak orang Bandung dan kota sekitarnya yang bekerja di Jakarta pulang kampung. Memilih berlibur di rumah akhir Minggu. Bukan hanya mereka, banyak juga orang Jakarta yang ingin menghabiskan waktu di tempat rekreasi di Bandung.

Sumpek. Jengah. Itu yang paling sering saya rasakan di kota besar seperti Jakarta dan Bandung ini. Melihat kepadatan kota ini, saya jadi ingat bagaimana tenangnya kehidupan di Wamena dan Mbua saat saya pergi ke sana beberapa waktu lalu.

Di Wamena, kota tertata rapi. Jalan lurus membentuk blok-blok. Seperti kota-kota maju di luar negeri sana. Walau memang, tiap blok berisi bangunan yang tidak terlalu asri maupun indah dipandang mata. Namun, bagaimanapun, Wamena itu sudah berbentuk Kota. Kota yang bagaimanapun juga, terlihat ramai. Walau memang tidak seramai kota-kota di Pulau Jawa.

This slideshow requires JavaScript.

Wamena

Keramaian, kesumpekan, dan hiruk pikuk kota tidak saya dapatkan ketika saya tiba di Distrik Mbua. Sebuah desa indah yang terletak disebuah lembah di Pegunungan Jayawijaya.

Berada di sana bagaikan sedang berada di dalam bola kaca. Dikelilingi gunung, langit di Mbua sering ditutupi kabut menyerupai awan. Kabut itu tidak ikut turun ke desa pada siang hari. Ia hanya terbang, menutupi puncak-puncak gunung yang mengelilingi Mbua.

Tidak ada jalan beraspal di sana. Semua jalannya berbentuk tanah yang di atasnya ditutupi batu. Jika hujan, jalanan ini menbentuk lumpur licin. Kerap kali, mobil 4×4 yang dikendarai akan selip di jalan ini. Sehingga perlu di dorong.

Jalan itu merupakan jalan satu-satunya di Mbua. Jika dilanjutkan, jalan tersebut akan terputus di distrik seberang. “Sedang coba dibuka jalur hingga akhirnya sampai ke Nduga,” ujar salah seorang warga di sana.

Perlu diketahui, Nduga merupakan sebuah kabupaten yang daerahnya melingkupi beberapa distrik. Salah satunya adalah Mbua.

Bayangkan bagaimana tertinggalnya daerah ini: sebuah distrik yang tidak memiliki jalan yang terhubung ke pusat pemerintahan kabupatennya sendiri. Di ujung jalan, kita perlu berjalan kaki selama berjam-jam untuk tiba di Nduga.

Ironi tidak hanya sampai di sana. Perekonomian warga Mbua sangat bergantung pada Wamena. Ya, kota berjarak 5 jam perjalanan mendaki dan turuni gunung. Bukan Nduga. Tapi Wamena. Sebuah Kabupaten lain.

Warga di sana terbiasa pergi ke Wamena dengan ikut nebeng di mobil 4×4. Perorang harus membayar Rp300.000 hingga Rp600.000 sekali jalan. Jika tidak punya uang, beberapa warga memilih berjalan kaki menuju Wamena. Mereka akan bermalam di tenda-tenda terpal yang tidak berpenghuni di sepanjang jalan; tenda yang memang diperuntukkan mereka, siapa saja, yang berjalan kaki ke Wamena.

Sampai sini saya ingat bahwa saya belum bercerita bahwa udara di sepanjang perjalanan sangatlah dingin. Di Wamena hingga Danau Habema, udara bisa mencapai 15℃. Dingin. Semakin ke atas, semakin dingin lagi. Ketika kami tiba di Puncak trikora pada pagi hari, suhu di sana 8℃ dengan matahari bersinar cukup terang. Bayangkan mereka yang harus menginap di tenda terpal, malam hari, dengan suhu yang tentunya akan lebih dingin lagi dari 8℃.

Dari sana, kita juga bisa membayangkan, bagaimana pola hidup dan kesehatan masyarakat kebanyakan. Dengan suhu yang ekstrem seperti itu, tentunya masyarakat akan sangat mudah sakit. Terutama anak-anak. Dan menurut dokter yang bertugas di Mbua, faktor keadaan cuaca inilah salah satu indikasi penyebab kematian puluhan anak di Mbua.

Mbua mengalami kemarau panjang sepanjang 2015. Mereka yang kebanyakan menanam sendiri bahan makanan seperti sayuran dan umbi-umbian; sayangnya tahun itu harus gagal panen. Banyak dari mereka yang kelaparan. Mereka juga terbiasa minum dari air hujan. Air hujan di Mbua, menurut dokter, tidak berefek negatif pada masyarakat. Namun sejak kemarau berkepanjangan, masyarakat mulai mengkonsumsi air sungai yang memang melintasi Mbua.

Kemarau memang menjadi persoalan utamanya. Kemarau membuat sumber makanan masyarakat berkurang. Suhu di Wamena meningkat drastis. Panas terik di siang hari, sangat dingin di malam hari. Warga mulai mengkonsumsi air sungai, padahal air belum tentu bersih karena di hulu juga ada warga yang membangun Honai–rumah adat Papua.

Hasilnya, banyak hewan ternak yang mati kelaparan, kehausan. Puluhan anak yang memiliki kekebalan tubuh tidak sebaik orang dewasa juga mengalami hal serupa. Pengaruh cuaca ekstrem menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) bagi anak-anak di sana. Batuk, beringus, panas tinggi, kejang, mengigil, dan pusing disebut sebagai simtom yang dialami banyak anak di periode itu; gejala-gejala yang kerap dialami penderita ISPA. Ketika saya ke sana, banyak juga anak yang tampak mengalami gejala serupa.

ISPA, sebuah penyakit yang sebenarnya bisa ditangani dengan mudah. Iya, jika penyakit itu diidap oleh anak yang lahir di kota atau daerah yang memiliki infrastruktur mumpuni. Sayangnya, Mbua tidak memiliki kemewahan itu.

Jarak kota terdekat adalah 5 jam perjalanan. Bisa dibilang, desa ini sangat terpencil. Obat-obatan menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan jika diberi oleh dokter.

Hanya ada satu puskesmas. Dokter di Mbua bukan dokter tetap. Mereka adalah dokter yang ditugaskan. Biasanya hanya 6 bulan. Setelah itu diganti lagi. Jumlah mereka hanya empat orang, itu juga sudah bagus. Biasanya kurang. Mereka harus mengurusi sekitar 4000-an warga di 3 distrik; termasuk Mbua. Jumlah yang sangat tidak ideal.

Obat-obatan yang ada juga sangat minim. Menurut dokter kurang. Selain karena biaya yang mahal untuk mengantar obat ke Mbua, juga karena memang peredaran obat di Papua kurang. Apalagi, kebanyakan warga kurang pengetahuan tentang obat dan vitamin.

Melihat kenyataan ini, pembangunan infrastruktur yang tidak merata menjadi penyebab utama kematian di Distrik Mbua. Jika saja akses menuju kota lain dan rumah sakit yang memiliki alat juga obat-obatan lengkap dapat dinikmati warga Mbua, tentu kasus 32 anak meninggal dunia tidak perlu terjadi.

Saya pun kini tidak heran jika beberapa rakyat Papua meneriakkan kemerdekaan. Kekayaan Papua yang berlimpah seakan digunakan untuk menghidupi seluruh dunia, kecuali Papua sendiri. Hingga untuk mendapatkan kesehatan yang layak pun mereka tidak dapat menikmatinya.

***

1 Desember 2015. Warga Mbua ramai-ramai berkumpul di bawah kantor Camat. Mereka membuat tiga lubang besar untuk acara bakar batu. Meriah. Semua senang.

Para orang tua senyum. Semangat ikut mengambil batu dan tumbuh-tumbuhan, dibantu para anak-anak yang tersenyun gembira disela batuknya yang belum sembuh.

Semua seakan melupakan sejenak tragedi yang baru terjadi. Mereka menyambut Natal dengan membuka gerbang dan berpesta dalam syukur.

This slideshow requires JavaScript.

Setiap tahun mereka merayakan hal acara menyambut gerbang Natal ini. Tiap tahun pula mereka membuat acara bakar batu. Di tengah kemeriahan, sedikit terbersit juga kesedihan di mata Erias dwijangge, Kepala Distrik Mbua.

“Tahun-tahun kemarin kita bisa buat 10-11 lubang, kini hanya tiga,” ujarnya di tengah masyarakat yang sedang menyiapkan bakar batu. “Ini bukti nyata kalau distrik ini sedang kelaparan. Dulu, umbi-umbian, daging, sayur menggunung. Sekarang tidak,” lanjutnya sambil menjelaskan bakar batu tahun ini tidak menggunakan umbi-umbian karena gagal panen; gantinya mereka menggunakan beras bantuan pemerintah. Bantuan yang baru datang setelah berita kematian puluhan anak di sana tersiar.

Walau begitu, semua bersuka cita. Mereka juga tidak lupa berdoa di depan gereja. Meminta Tuhan untuk memberikan kesehatan dan kesejahteraan. Juga bersyukur bahwa gerbang Natal tiba bersamaan dengan hujan yang sudah mulai turun lebih sering.

Tidak ada wabah. Hanya ada penyakit yang tidak bisa tertangani dengan cepat karena kurangnya infrastruktur dan penunjang kesehatan lain. Hanya ada anak-anak ingusan batuk-batuk meminta penyakitnya segera sembuh. Hanya ada sebuah desa yang seakan tidak diberi perhatian pemerintah, sehingga tidak dianganggap penting pembangunan infrastrukturnya.

***

Jalan tol Cipularang arah Jakarta-Bandung, 4 Desember 2015.
18.33 WIB

Note: Kabarnya jalur Mbua-Nduga kini sudah bisa dilalui oleh kendaraan. Tentunya ini menjadi bagian dari pembangunan Trans Papua di pemerintahan Presiden Jokowi. Terbukanya akses jalan tersebut semoga bisa membawa kebaikan untuk masyarakat Mbua; masyarakat yang telah mau menerima kami secara ramah di distriknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s