Perjalanan Mengubah Hidup: Dari Wamena ke Mbua (Bagian 1)

Bandara ini tidak mutakhir. Ruang tunggunya tampak seperti kandang kuda. Atapnya ditutupi seng. Walau begitu, udara di dalamnya tidak panas. Ya, Wamena memang berudara dingin. 15-20℃ sehari-harinya. Udara yang, walaupun di bandara sempit ini banyak orang, tidak akan membuat orang di dalamnya kepanasan.

This slideshow requires JavaScript.

Ada sedikit gundah yang hadir saat saya datang ke bandara ini untuk ke-2 kalinya. Karena artinya, saya harus pulang meninggalkan lembah Baliem.

Saya tiba ke Wamena dalam cemas. Bagaimana tidak. Saya datang ke sini dalam rangka meliput suatu wabah di daerah Mbua, Kabupaten Nduga–sebuah tempat yang hanya lewat Wamena lah Ia bisa dijangkau. Berita yang tersiar, ada puluhan anak berusia tujuh tahun ke bawah yang meninggal secara misterius dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, dikabarkan banyak hewan yang juga mati mendadak.

Hewan mati mendadak itu pertanda adanya wabah. Di Afrika sana, itu salah satu tanda Ebola. Di Asia, dulu flu burung memiliki simtom yang sama. Juga Antrax, flu babi, dan wabah lainnya yang menggegerkan dunia.

Itulah berita yang kami dapat di Jakarta. Jauh dari lokus peristiwa. Informasi yang kami dapat dari media online–media yang memang lebih mengutamakan kecepatan terbit, dibanding ketepatan isi berita.

Tiba di Wamena, kami berusaha mengkonfirmasi ke pejabat-pejabat berwenang. Kapolres dan Dandim Jayawijaya yang baru tiba di Wamena dari Mbua kami mintai keterangannya. Mereka menyebut, jumlah korban yang beredar, 50-an orang anak merupakan data yang salah. Tidak sebanyak itu.

Penasaran, kami pun memutuskan datang langsung ke lokasi kejadian. Kami bertanya ke Pak Niko, seorang preman pensiun yang beralih profesi menjadi driver dan guide para turis. Lelaki asli Wamena yang senang bercanda ini bilang, perjalanan ke Mbua bisa di tempuh lewat jalur darat dan udara.

Jika lewat jalur udara, kita harus menyewa pesawat kecil yang bisa menampung 5-6 awak. Sekali jalan Rp25 juta. “Pulang pergi, ko kalikan saja sendiri,” terangnya. Selain itu, terbang di Wamena dengan pesawat kecil banyak resikonya. Jayawijaya selalu ditutupi kabut, hal yang sulit diprediksi dan bisa mengancam keselamatan, apalagi harus berkelok-kelok melewati celah gunung gemunung di Jayawijaya.

Akhirnya kami memilih jalur darat. Jalur ini hanya biaa dilewati oleh mobil khusus 4×4, mobil yang sering dipakai para pecinta off-road. Harga pulang pergi Wamena-Mbua itu seharga tiket pesawat Jakarta-Jayapura untuk 3 orang. Ya mahal. Sangat mahal. Saya sendiri hampir tidak percaya kenapa hingga sampai semahal itu.

Akhirnya kami berangkat ke Mbua dua kali dari Wamena. Hari ke-3 di Wamena, dan hari ke-6. Di hari ke-3, kami berangkat agak siang. 09.30 WIT. Perjalanan sangat melelahkan. Lima jam kita bergelut dengan buruknya jalan. Jalan batu, jalan lumpur, kubangan, tanjakan curam, turunan tajam, membuat siapapun yang pergi ke sana tidak akan bisa tidur di perjalanan.

Untungnya, pemandangan di perjalanan kita ke Mbua sangatlah memanjakan mata. Danau Habema yang luas dan cantik tiba-tiba hadir selepas melewati bukit berbatu. Selepas Habema, kita akan melewati gunung karang purba. Bukit-bukit karang bertumpuk, menggunung, memberikan pemandangan indah nan eksotis. “Surreal,” ujar Vano saat melihat bukit ini pertama kalinya.

This slideshow requires JavaScript.

Tidak berhenti di sana, perjalanan terus menanjak hingga ketinggian 3600 mdpl. Di atas sana, sejauh kita memandang, deretan gunung berbaris dengan indahnya. Langit biru dan kabut memberikan kesan misterius bagi gunung yang bersembunyi, hingga hanya menampakkan siluet biru di balik gunung hijau di depannya. Keindahan ini seakan membayar bagaimana melelahkannya perjalanan menuju Mbua.

Keindahan ini harus sedikit terlupakan saat kita menuruni puncak. Kali ini, kesan suram yang didapatkan. Pohon berdempetan tinggi di kedua sisi jalan. Jalanan berkerikil, licin. Kabut menyelimuti, menutupi jalan di depan. Belum lagi, jalannya yang curam. Kemiringan turunan bisa mencapai kemiringan 80°. Sangat berbahaya.

This slideshow requires JavaScript.

Tapi lagi-lagi, Papua memberikan kita hadiah. Setelah melewati gunung curam berkerikil yang tidak bersahabat itu, hadir sebuah lembah indah. Sebuah lembah yang dikelilingi gunung. Dialiri sungai, diselimuti kabut. Lembah ini dihiasi rumah-rumah kecil. Jaraknya berjauhan. Sangat indah dan asri.

This slideshow requires JavaScript.

Mbua, nama lembah itu. Tempat yang digambarkan media di Jakarta sedang dikutuk wabah. Sebuah distrik indah yang sedang dirundung masalah.

***

Bandara Wamena, 3 November 2015. 
13.18 WIT

 

Note: Perjalanan ini dilakukan pada tahun 2015. Sejak tahun 2016, Presiden Jokowi mempercepat pembangunan Trans Papua. Salah satunya adalah jalan Wamena-Nduga. Kabarnya, tahun 2018 akan tersambung. Dan tampaknya, sekarang kondisi bandara juga jalan sudah lebih baik daripada ketika saya melakukan perjalanan ke sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s