Terinspirasi Menginspirasi – Sebuah Catatan dari Kelas Inspirasi Bandung 5

Melakukan kebaikan adalah hal yang sebenarnya mudah dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan hal terkecil sekalipun; seperti tersenyum. Bahkan, dalam Islam, senyum disebut-sebut memiliki pahala sebesar sedekah. Sedekah termudah yang dapat dilakukan.

Jika hal kecil seperti senyum saja  merupakan sebuah kebaikan yang dapat membawa kebaikan untuk kehidupan, maka menginspirasi dapat memberikan kebaikan yang lebih besar lagi.

Itulah yang coba dilakukan oleh Kelas Inspirasi Bandung Rabu, 22 Februari 2017  lalu. Gelaran Kelas Inspirasi Bandung yang ke-5 ini semakin besar dari pada Kelas Inspirasi yang pernah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya jelas; menginspirasi lebih banyak anak-anak Indonesia untuk masa depan yang lebih baik.

Beruntung, saya adalah salah satu relawan yang terpilih untuk mengikuti gerakan menginspirasi tersebut. Awalnya, saya ingin menjadi seorang relawan inspirator. Ingin rasanya bercerita bagaimana serunya menjadi seorang wartawan; mencari dan menceritakan informasi dari segala penjuru Indonesia. Bagaimana asyiknya bertemu dan mewawancarai berbagai macam narasumber. Bagaimana menantangnya mengolah informasi dengan sedemikian rupa menjadi hal yang menarik untuk banyak orang.

Tapi kemudian saya ingat, saya sudah bukan wartawan lagi seperti Fauzan, fasilitator Kelas Inspirasi kelompok kami. Kini, saya adalah seorang pekerja digital media marketing. Berkutat dengan data, SEO, SEM, sosial media, dan bermacam digital marketing hal lainnya.

Mendekati Hari Inspirasi (begitu kami menyebut hari pelaksanaan), saya masih belum menemukan formula yang tepat bagaimana dapat menginspirasi adik-adik SD lewat profesi saya saat ini. Daripada gagal menginspirasi, akhirnya saya mencoba menjadi relawan videografer. Mungkin, saya dapat menjadi relawan inspirator di lain waktu.

Walau begitu, saya tetap bersyukur dapat menjadi relawan videografer. Menangkap dan mengabadikan inspirasi ternyata menjadi sebuah pengalaman yang mengubah pandangan hidup juga. Kalian bisa melihat dokumentasi Kelas Inspirasi Bandung 5 di SD Pasirhalang 3 yang dikerjakan oleh saya dan juga teman relawan fotografer Ferry Setiyadi, Rafi Khoery, dan Fajar N. Putra di sini, di sini dan di sini.

all_ok1
(Ferry Setiady)

Di SD Negeri Pasirhalang 3, Kabupaten Bandung Barat, saya mendapatkan inspirasi dari 15 relawan lain. Mereka hadir dari berbagai macam profesi. Saling bertukar pengalaman, sudut pandang, dan juga ilmu di profesinya masing-masing.

Dari mereka, saya mendapatkan pengalaman luar biasa karena mereka memiliki pandangan yang beragam mengenai dunia pendidikan di Indonesia.

Seperti dari Siti Nurrahmawati misalnya, ia menilai bahwa pendidikan di sekolah dasar adalah ujung tombak dari berkembangnya sebuah negeri. Dan hal itu membutuhkan tenaga pengajar yang luar biasa hebat.

Sementara Dinan Art melihat bahwa banyak anak yang masih belum tahu jika sebuah hobi dan kesenangan  dapat menjadi sebuah profesi menjanjikan. Dan hal itulah yang menjadi pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan para inspirator yang sukses berprofesi dari sebuah hobi.

Meski begitu, para relawan juga sadar jika pekerjaan guru tidaklah mudah. Seperti yang dikisahkan oleh Novi Nurhidayah, Siti Rosita, dan Putri Maharani. Mereka menyebut mengajar, terutama siswa SD, membutuhkan tenaga yang besar. Mulai dari energi, hingga suara. Kesempatan ini akhirnya juga menjadi sebuah refleksi bagaimana para relawan sangat berterima kasih atas jasa para guru SD-nya masing-masing yang sangat besar hingga mengantarkan mereka ke profesinya saat ini.

Setelah mengajar anak-anak SD tersebut, para relawan seakan ingin terus untuk mengajar. Terus memberi ilmu dan menginspirasi. Seperti apa yang disebutkan oleh Rinaldi Elpan dan Dian Duhita, bahwa mengajar ternyata bisa menjadi candu. Tidak heran mengapa banyak sekali guru/dosen yang sangat mencintai profesinya.

Hal ini wajar. Bukan karena mereka ingin terus menginspirasi anak-anak, tapi karena alasan lain; bahwa anak-anak SD ini lah yang ternyata menginspirasi mereka, para relawan. Hal ini diutarakan Putri Novita Dewi Mulyono dan Muhammad Abdu Ar Rahman. Bagaimana mereka, yang datang untuk menginspirasi, malah terinspirasi oleh semangat belajar para siswa yang seakan tiada habisnya.

Kenyataan tersebut nyatanya menjadi sebuah lingkaran inspirasi dan optimisme yang tentunya membawa banyak kebaikan. Itulah sebabnya, Cut Irna Setiawati menyebut bahwa Kelas Inspirasi memang “gak ada matinya.”

Semangat ini tentu harus terus dijaga. Karena di tengah kondisi yang serba terpolarisasi seperti sekarang, tentunya kebaikan dan kemajuan tetap harus diiutamakan. Agar dunia ini menjadi terus lebih baik.

Dan senang rasanya, melihat masih banyak orang yang peduli akan pendidikan di Indonesia lewat Kelas Inspirasi Bandung 5. Tentunya, hal ini menjadi bukti bahwa masih banyak orang yang peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia, seperti apa yang dikatakan oleh Kiki Moch. Rizki.

This slideshow requires JavaScript.

(Ferry Setiady)
***

Saya adalah seorang sinis. Seorang yang selalu melihat berbagai hal dari sudut pandang negatif. Pesimis. Karena dari pengalaman hidup saya sejauh ini, pandangan positif dan optimisme hanya akan membawa kekecewaan. Life is not always that nice. That’s a fact.

Pandangan positif dan optimisme, dilihat dari segi ilmiah, tidak terlalu baik bagi kesehatan mental kita. Sikap tersebut bisa sangat berbahaya apabila tidak dibarengi dengan aksi, akal sehat, sumber daya, dan keinginan untuk mengambil risiko. Maka dari itu, saya alergi dengan orang yang selalu memberikan pesan-pesan dan kata-kata mutiara positif yang sebenarnya kosong makna dan juga aksi. Apalagi akal sehat.

Tapi dalam penelitian lain, optimisme ternyata tidak seburuk yang dikira. Karena jika dibarengi dengan aksi nyata, maka optimisme dapat menjadi hal yang sangat baik, yang dapat memberikan banyak manfaat.

Hal ini yang saya rasakan ketika menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sungguh perasaan yang datang hanya beberapa kali dalam hidup seorang pesimis dan sinis seperti saya.

That actually felt good. Weirdly.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s