Soal Rizieq Shihab dan Teman Perempuan

Kemarin, saya membereskan kamar. Karena, saya tidak ingat kapan terakhir saya membereskan kamar, dan bentuk kamar saya sudah seperti kapal pecah.

Saya perlu sampai semalaman untuk membersihkan kamar. Hal ini dikarenakan memang kamar saya yang berantakan dan saya menemukan foto-foto jaman SMA dulu.

Penyakit procrastinator. Ada saja yang menghambat pekerjaan supaya selesai cepat.

Seketika saya mengingat masa sekolah dulu. Bagaimana hidup dan tujuannya sangat sederhana. Tidak rumit seperti sekarang.

Dulu, ketika SMA, salah satu tujuan hidup paling utama hanyalah untuk tampil keren di hadapan para cewek cantik yang ada.

Tampil keren dan tenar, maka kau akan siap mati saat itu juga karena tujuan hidupmu sudah tercapai.

Tapi, bisa dibilang saya bukanlah orang yang tenar ketika SMA dulu. Bukan apa-apa. Cewek yang saya keceng/taksir biasanya sudah punya pasangan.

Pasangan mereka biasanya terkenal seantero kampus, bahkan sekolah lain. Motornya Kawasaki Ninja terbaru, bukan Honda Grand 1994 seperti yang saya naiki sehari-hari. Dan selalu unggul dalam berbagai aktivitas yang macho. Badan kekar tinggi, tampan. Jagoan.

Well, wajarlah mereka memilih para lelaki itu. Toh apa salahnya perempuan dengan fisik dan materi sempurna, menginginkan pria yang sempurna fisik dan materinya pula. Mereka bahagia.

Tapi apa iya?

Pernah suatu ketika, salah satu teman perempuan saya mengajak saya curhat di kelas saat tidak ada guru. Kita sebut saja namanya Markonah ya supaya gampang.

Markonah sudah punya pacar. Kurang lebih, pacarnya adalah tipe lelaki yang saya gambarkan tadi lah.

Awalnya, Markonah bercerita bahwa ia senang punya pacar yang ganteng, wangi, gagah. Ia juga bahagia karena banyak orang bilang bahwa mereka adalah pasangan serasi.

Pasangan ideal. Bikin iri anak-anak lain di sekolah.

Tapi lama-lama, ia bercerita ke hal yang lebih pribadi.

Ternyata, selama 3 bulan pacaran ia juga merasa ada yang tidak sempurna di hubungannya.

Markonah menyebut pacarnya sering emosi berlebihan, membentak, dan kasar. Mesum juga. Bukan hanya ke Markonah, tapi ke orang lain juga.

Saya tahu sih sedikit banyak soal pacarnya itu. Karena memang sering bikin masalah.

Sering memprovokasi, meledek, dan menghina teman lain yang “berbeda” dengannya. Ngajak berantem.

Setelah cerita itu, saya menyarankan Markonah untuk meninggalkan pacarnya. Tapi dia membela pacarnya.

Buat apa coba membela dia yang arogan, kasar, provokatif, senang menghasut dan mesum macam pacarnya itu?

Dia bilang sayang. “Apa kata orang nanti?” lanjutnya.

Ya akhirnya saya bilang dia bodoh kalau masih mau bersama orang yang seperti itu. Dia tersinggung. Kemudian membela pacarnya setengah mati setelah saya bilang begitu.

Tapi kayaknya, dia mengerti kenapa saya bilang begitu. Jadi dia tidak bilang ke pacarnya bahwa saya bilang begitu. Saya tahu ini, karena pacarnya tidak ngajak saya berantem setelah Markonah curhat ke saya.

Singkat cerita, setahun kemudian, Markonah putus dengan pacarnya itu. Dia bilang dia menyesal malah membela pacarnya ketika curhat tempo hari.

Ia bilang memang seharusnya, orang yang arogan, kasar, mesum, dan senang menghasut juga menghina kayak dia tidak perlu dibela.

Yang begitu harus ditinggalkan secepatnya.

PS: (Habib?) Rizieq Shihab gak ada hubungannya sama tulisan ini. Saya cuma nulis untuk optimalisasi SEO. Kecuali kalian sendiri nemu kesamaan antara tulisan ini, Rizieq Shihab, dan pengikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s