Kesalahan Presiden Ketika Menghadiahkan Sepeda

Semua masih ingat ketika video seorang bocah SD menjawab pertanyaan dari Presiden RI Joko Widodo. Ketika diminta untuk menyebutkan nama ikan, Ia salah menyebutkan salah satu nama ikan. Terselip lidah, “Ikan tongkol” yang ia maksudkan sebagai jawaban malah “ikan kontol” yang keluar dari mulutnya.

Sontak semua penonton di video tersebut, tertawa terbahak-bahak. Tidak terkecuali sang Presiden. Ia terpingkal, dan meminta sang anak untuk mengambil hadiah sepeda yang dijanjikannya.

Video tersebut kemudian menjadi viral. Ia memenuhi lini masa banyak media sosial seperti facebook, Twitter, Instagram, hingga Path. Di awal ke-viral-annya, banyak orang yang tertawa terbahak; terhibur karena adanya video tersebut.

Saya juga termasuk salah satunya. Bagaimana tidak, sang anak dengan polosnya terpeleset lidah, sehingga mengeluarkan kata “kontol” di hadapan publik. Di hadapan Presiden pula. Presidennya ikut terpingkal pula. Semua terhibur.

Sampai akhirnya ada pihak yang menyayangkan penyebaran video tersebut. Mereka menyebut bahwa tidak elok menertawakan sanga anak yang masih kecil. Bahkan, disebutnya, dengan menonton dan menertawakan video tersebut, berarti ikut mem-bully sang anak.

Sedikit banyak, saya setuju dengan alasan yang dikemukakan. Tapi, tidak sepenuhnya. Karena memang, video tersebut lucu dan menghibur. Salah sebut, keseleo lidah, merupakan salah satu jenis guyonan yang lucu dan banyak diterima masyarakat sejak lama.

Selain itu, menurut saya, semua orang yang tertawa bukan berarti menertawakan sang anak. Dan tidak semuanya menyalahkan atau mem-bully-nya. Mungkin saja memang ada orang yang memuja jokes receh seperti saya ini.

Semua orang juga tahu bahwa sang anak adalah anak yang polos. Salah sebut. Sehingga kepolosannya tersebut menciptakan gelak tawa banyak orang.

Jikapun ada yang salah di video tersebut, maka Jokowi orangnya.

Bukan Kepolosan Pertama

Ini bukan pertama kalinya video Jokowi dan anak-anak sekolah menjadi viral. Sebelumnya, di sebuah pesantren, Jokowi juga pernah mengadakan kuis serupa.

Seorang santri diberi pertanyaan oleh Jokowi. Yang bisa menjawab, akan dihadiahkan sepeda. Sama seperti yang baru-baru ini.

Di pesantren tersebut, Jokowi memberi pertanyaan kurang lebih seperti ini: “Sebutkan nama 3 menteri kabinet kerja”.

Sang anak menjawab, “Bismillahirrahmanirrahim..” lalu menyebut nama Presiden Megawati, Ahok, dan Prabowo. Sontak semua yang penonton tertawa. Tidak terkecuali Jokowi yang kemudian menyuruh sang santri untuk mengambil sepeda.

Tidak hanya mereka yang ada di dalam video, video tersebut juga menghibur banyak orang. Karena dengan cepatnya, video tersebut menyebar di media sosial. Bahkan video ini lebih leluasa disiarkan di banyak Stasiun TV. Karena, tidak ada kata “kontol” yang memang tidak boleh tersiarkan di TV.

Lagi-lagi, video ini menghibur dan lucu. Tapi jika ada yang patut disalahkan, Presiden lah orangnya.

Kesalahan Presiden

Saya menyalahkan Jokowi di kedua video tersebut bukan karena saya penganut kredo “Jokowi Selalu Salah” seperti para pendukung Prabowo yang masih enggak bisa move on dari Pilpres 2014. Tapi memang sebagai seorang nomor satu di Indonesia, aksinya terhadap anak-anak di video tersebut tidak bisa dibenarkan.

Tentunya yang saya permasalahkan bukan soal safari dan kuis membagi-bagikan hadiah ke anak-anak. Itu sih, silakan saja. Toh juga memberi anak hadiah bisa menambah semangat anak belajar lebih giat.

Tapi, apa iya belajar lebih giat bisa memberikan hadiah yang layak untuk anak-anak? Jika melihat apa yang dilakukan Presiden, jawabannya tidak.

Aksi Jokowi menghadiahkan sepeda kepada anak-anak yang menjawab salah pertanyaan yang ia berikan tentunya bersifat destruktif. Bagi sang anak yang menerima hadiah, dan juga anak lain yang menonton acara/video tersebut.

Pesan apa yang coba ditanamkan Jokowi kepada anak-anak di seluruh negeri? Bahwa jika kalian melakukan kesalahan, kalian pantas mendapatkan reward?

Bahwa ia yang diberi kesempatan dan melakukan kesalahan tetap akan mendapatkan hadiahnya, kalian yang belum mendapat kesempatan tidak akan diberi kesempatan serupa, sehingga tidak bisa mendapatkan hadiah?

That’s just wrong, man.

Mengoreksi dan Memberi Pesan

Ada baiknya, Jokowi ketika akan terus melanjutkan acara serupa, tidak melakukan hal ini lagi. Kecuali sang anak benar-benar menjawab pertanyaan yang ia berikan. Well, paling tidak, ia koreksi terlebih dahulu sang anak ketika menjawab pertanyaan dengan salah. Sebelum akhirnya memberikan hadiah.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan pada anak lain yang bisa memberikan jawaban benar. Sang anak yang salah menjawab pertanyaan tentunya akan sedih. Tapi apa boleh buat. Sang anak harus melakukan hal yang benar untuk mendapatkan reward, dan akan mendapatkan punishment ketika melakukan kesalahan. Hal ini harus diajarkan sejak dini.

Trust me, that’s really a basic knowledge the kids should know to face the world. They will thank you for that. Because world, as John Green said, is not really a wish-granting factory. You have to fight for everything. So you have to do everything right. And you can’t expect reward when you make mistake(s).

Siapa yang mendapatkan reward dari kesalahan? Koruptor.

***

PS: Ohh.. I forget. Ada lagi orang yang salah dalam hal ini. Mereka adalah yang bikin hoax soal sang anak yang salah sebut ikan tongkol. Really.. Ada yang bikin hoax soal itu. See how cruel world is?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s