La La Land (2016): Is It Really a Sad Ending Movie?

lalaland2w

La La Land (2016) Director: Damien Chazelle; Music: Justin Hurwitz; Cinematographer:Linus Sandgren; Editor: Tom Cross; Cast: Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, Rosemarie DeWitt;

La La Land (2016) is arguably the best movie in this decade. Yah, paling tidak, akan masuk 10 besar. Hell, buat saya, paling tidak La La Land akan masuk lima besar film terbaik dekade ini. Mengingat masih ada sisa 3 tahun lagi; masih mungkin ada film lain yang juga tidak kalah bagusnya. Meskipun saya ragu akan ada lagi film yang baik dari berbagai segi seperti La La Land di dekade ini.

La La Land pantas mendapatkan banyak pujian. Ceritanya tidak rumit, musiknya menyenangkan, beragam teknik perfilman di dalamnya tidak berlebihan ketika ditonton. Sungguh film yang sempurna.Seluruh elemen dalam film ini seakan bersaing dalam menjadi yang terbaik. Emma Stone, Ryan Gosling, sutradara Damien Chazelle, musik dari Justin Hurwitz, sinematografi, editing, koreografi, make up dan hairstyling, costum design, production design, sound mixing, sound editing, semuanya layak mendapatkan pujian. Pujian terbaik tahun ini.

Film ini akan menjadi film legendaris yang akan di bahas hingga bertahun-tahun ke depan. Seperti film musikal legendaris lain layaknya The Wizard of Oz (1939), Singin’ in the Rain (1952), atau The Sound of Music (1965).

Spoiler Alert!

La La Land sendiri berkisah tentang Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Keduanya adalah tipikal pemuda dan pemudi Los Angeles yang pergi ke sana untuk mewujudkan mimpinya. Mia adalah seorang aktris yang mendatangi berbagai casting untuk mendapatkan peran pertamanya; di sela pekerjaannya sebagai bartender coffee shop.

Sementara Sebastian adalah seorang musisi berbakat yang memiliki mimpi untuk membuka pub-nya sendiri di mana ia dapat bermain jazz sesuka hati. Ia juga bercita-cita untuk membangkitkan kembali musik jazz asli, yang menurutnya, sudah mulai ditinggalkan.

lalaland2

Singkat cerita, dari pertemuan keduanya, akhirnya Mia dan Sebastian menjalin hubungan. Semuanya terasa indah. Hingga akhirnya, Sebastian bergabung dengan band jazz modern (yang bertentangan dengan cita-citanya) dan Mia menggelar sebuah monolog yang gagal.

Hubungan keduanya berakhir. Namun, sebuah telepon masuk ke telepon Sebastian yang meminta Mia untuk datang ke tempat casting untuk sebuah film besar. Sebastian akhirnya membujuk Mia untuk mendatangi casting tersebut; mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Mia mendapatkan peran tersebut.

Lima tahun kemudian, dikisahkan Mia telah menjadi bintang film ternama, kaya raya, berkeluarga. Sementara Sebastian telah membuka pub impiannya.

Film ditutup dengan adegan di mana Mia beserta Suaminya tidak sengaja mendatangi pub milik Sebastian. Mia dan Sebastian akhirnya bertemu setelah sekian lama. Mereka akhirnya sadar telah mewujudkan mimpinya masing-masing.

Mereka telah mengorbankan banyak hal untuk mencapai mimpinya; meskipun itu adalah hubungan mereka.

Aaaaaand.. that’s the ending. Some people (all people, i think) say it has a sad ending.

lalaland

Soal Mengejar Mimpi

But, somehow, I didn’t think it’s a sad ending.

Semua orang sedih karena ending-nya tidak bahagia karena kedua tokohnya tidak bisa hidup bersama. 

But hey! It’s a happy ending movie.

Everyone achieved their dream. They should be happy. Dan mereka akhirnya bertemu lagi setelah 5 tahun berpisah.

Lalu, apakah orang yang rela mengorbankan apapun demi mencapai mimpinya seperti Mia dan Sebastian akan menyerah begitu saja mengejar belahan hatinya?

No, I don’t think so. No.

Thoughts?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s